Walau sudah berlalu hampir 5 hari, nampaknya acara DP2Q (Dauroh Pembinaan Pejuang Qur’an) masih tetap membekas di hati. Entahlah, bukan dari segi materi ustdadz yang membekas, tapi banyak sekali ‘behind the scene’ yang bisa dijadikan kenangan indah di suatu hari nanti.
Cerita ini bermula selepas menjadi AM (Anggota Muda) Majelis Ta’lim Salman ITB, saya menjadi salah satu pengurus. Karena DP2Q ini biasanya dipegang oleh angkatan kedua termuda alias 2008 padahal ngakunya sih bukan unit kampus dan bla-bla-bla lainnya. Seharusnya tidak ada diskriminasi angkatan untuk menjadi panitia inti, karena ada jugak anak ITB 2007 yang seharusnya turut jadi panitia inti karena mereka juga AM seangkatan dengan saya. Sudahlah, apa yag terjadi tetaplah terjadi, saya tidak pernah bisa mengubah sistem kaderisasi yang cenderung feodal baik di ITB atau Mata’ (tapi kesempatan itu masih ada boii
) .
Ketika DP2Q yang jilid satu saya sempat menjadi panitia inti alias tim acara tapi berhubung males nulis di blog, makanya langsung loncat aja ke DP2Q yang kedua.
Di DP2Q jilid kedua ini saya pada awalnya tidak terdaftar sama sekali dalam kepanitiaan
. Tapi karena kebodohan pengakuan saya dengan setengah menyindir di milis pengurus bahwa saya tidak terdaftar, saya pun ditarik dalam kepanitiaan sebagai supplier alias seksi logistik dan transportasi (meliputi akomodasi juga). Saya selama ini selalu merasa berhutang budi terhadap Mata’ makanya sulit menolak bila diajak jadi panitia atau sekedar bantu2, berbeda kalau yang ngajaknya unit sebelah
.
Acara DP2Q kedua ini diadakan di daerah cukup terpencil dari pusat peradaban. Yaitu di Cijanggel Parongpong, di villanya milik Aa’ Gym. Menurut saya pemilihan tempat ini sangat ideal, karena bisa mengisolasi peserta yang ‘lemah’ dari keinginan untuk pulang pergi atau panitia ‘penggembira’ yang kadang2 suka males-malesan (sorry bahasanya aga sarkas dikit). Dan yang paling menjual dari tenpat ini adalah pemandangannya yang indah dan udaranya yang sejuk cenderung dingin, bener-bener cocok banget untuk dijadikan tempat dauroh
.
Hari pertama dimulai pada hari Sabtu 29 Mei 2010, bertepatan dengan bulan purnama. Kejadian yang cukup seru adalah keberangkatan yang cukup on time mengingat yang bikin lama sebenarnya adalah panitianya bukan peserta
. Dan kejadian makan siang. Bisa dibilang hampir terjadi perang dingin antara panitia ikhwan dan akhwat seksi konsumsi. Si ikhwannya merasa kurang puas terhadap makan siang yang disediakan. Padahal kalau saya mah cuma bilang, nasinya aga keras tapi no problem lah, kalau dah laper mah apa aja disikat. Tapi untung perang dingin berhasil diredam, dan tidak ada kejadian ikhwan masak sendiri
.
Hari pertama walau koordinasi masih kacau, tetapi bisa dibilang cukup sukses. Cukup sukses walaupun satu orang ustadz berhalangan hadir karena telat dijemput dan materi terakhir baru dimulai pukul 21.30 alias terlampau malam. Kami panitia pun urung mengevaluasi peserta dengan keras (baca: marah-marah) karena memang panitia juga belum bekerja maksimal. Sebelum mengevaluasi orang lain, evaluasi dahulu diri sendiri. Sebuah keputusan yang bijak menurut saya
. Satu hal lagi yang cukup penting yaitu brownies buat ustadz masih sisa satu bungkus, bisa jadi harta rampasan perang yang lumayan buat disantap di akhir acara
.
Selepas materi terakhir peserta disuruh beristirahat. Sesampai di base panitia, entah siapa yang mulai, tapi tampaknya salah seorang MPOPS (semacam badan pengawas di Mata’
mengusulkan sebuah teknik membangunkan para peserta yang baik sehingga flow acara masih dapat terjaga tinggi. Waktu tidur saya pun berkurang sedikit, tapi saya masih tetap menghibur diri, karena masih ada waktu yang ‘kira-kira’ kosong buat curi-curi tidur
.
Peserta dibangunkan pukul 1/2 3 pagi dengan teknik yang agak kasar terkesan militer atau khas kaderisasi di ITB ya?? Dibangunkan dengan pluit dan langsung lari menuju lapangan dalam waktu 5 menit. Saya saat itu bertugas mengawasi jalan, karena jangan sampe peserta lewat short-cut yang tidak aman. Walau dalam SOP saya disuruh bertindak agak sangar, tapi karena saya baik hati makanya susah buat melakukan kepura-puraan seperti itu.
Kejadian paling konyol justru terjadi di hari kedua ini. Saya sempet kesel walau belum sampe emosian karena ga ada yang ngaku, itu aja sih. Jadi ceritanya ketika saya hendak mandi pagi, entah mengapa closet yang ada di villa bentuknya udah ga karu-karuan lagi. Closetnya pecah, mengerikan banget deh, pantes buat masuk DP di kaskus. Saat itu dicurigai bahwa pecahnya closet terjadi pada saat peserta melakukan aktivitas di villa. Tetapi walaupun sudah dipanggil semua peserta dengan baik-baik dan panitia juga sudah ditanya dengan baik-baik, masih saja tidak ada yang ngaku. Hipotesis awal mengapa si closet duduk bisa pecah seperti itu dikarenakan closet duduk tersebut didzolimi dengan jalan dijongkoki (tolong jangan dibayangkan
).
Hari kedua saya sempat menjadi juru foto lepas untuk memotret salah satu panitia (ikhwan tentunya) yang kebelet pengen di foto dengan latar belakang lampu-lampu kota di kejauhan. Sesi pemotretan yang awalnya dikira hanya sebentar ternyata memakan waktu lebih dari 30 menit.
Hari kedua panitia mendapat rezeki makan gila-gilaan. Berhubung panitia ikhwan beberapa belum sempat makan malam dan alhamdulillah panitia konsumsinya berbaik hati menyisakan makanan (bukan dapet makanan sisa), dengan ditemani beberapa peserta yang belum makan malam juga, kami berpesta di villa. Makanannya bisa dibilang kelewat banyak baik dari nasi maupun lauknya. Udah tau banyak, mungkin karena kelaperan juga kita malah minta nambah jatah makanan, dan malah dikasih yang lebih bombastis lagi sehingga diperlukan bala bantuan untuk menghabiskan makanan. Pesta berikutnya adalah makan brownies sisa ustadz (bahasanya ga enak bgt). Walaupun sebenarnya sisa satu kotak, tapi kami tidak sempat menikmatinya berhubung satu kotak tersebut sudah didonasikan. Tapi masih ada siasa juga brownies konsumsi ustadz. Sesuai arahan seksi konsumsi ikhwan, maka kami membagi dua brownies tersebut untuk jatah panitia ikhwan dan akhwat.
Kejadian yang paling parah terjadi di hari kedua adalah peristiwa kecelakaan motor yang menimpa panitia ikhwan. Walaupun tidak parah tapi cukup membuat luka jahitan di kaki.
Hari kedua ditutup dengan saya tidur kedinginan tanpa jaket dan selimut
.
Di awal hari ketiga merupakan peristiwa yang cukup menyebalkan, karena menurut saya tidak pantas dilakukan pada DP2Q.
Show Spoiler »
Peristiwa itu adalah evaluasi oleh MPOPS. Entah mengapa justru yang banyak diserang adalah panitia dan pengurus Mata’, padahal sebenarnya acara ini untuk peserta. Masa yang dievaluasi pengurus, dan caranya juga cukup feodal khas kaderisasi di ITB dan cenderung vertikal satu arah ditambah bumbu-bumbu beo (ITB banget deh pokonya
). Tidak pantas walaupun tujuannya baik. Ingat, tujuan yang baik dilakukan dengan cara yang jelek tetep aja jelek, contohnya merampok demi menolong orang miskin. Di sana emosi saya sempat tersulut sedikit, tapi sudah diselesaikan dengan baik-baik
.
Hari ketiga lebih banyak diisi dengan acara outbond. Tapi sayangnya saya tidak mendapat tugas jaga pos, padahal pengen banget. Apa boleh buat tai ucing dibulat-bulat keputusannya sudah seperti itu, maka saya menerima untuk menjaga benteng agar tidak diserang musuh.
Jadi selama yang lainnya ikutan outbond saya menghabiskan waktu dengan berbelanja bahan makanan untuk makan siang dan sisanya dihabiskan untuk mencukupi jatah tidur saya yang cuma sedikit
.
Outbond kali ini konon cukup seru karena bisa terjadi dua kelompok gagal memasuki pos satu pada waktunya atau dengan kata lain tersesat. Tapi alhamdulillah semua berjalan sesuai rencana.
Selesai acara dauroh ini dan semua peserta pulang diikuti sang korum (koordinator umum, semacam ketua) hujan lebat pun turun. Panitia ikhwan yang naik motor semua, memilih untuk kongkow-kongkow dahulu di villa toh penjaga villanya ga keberatan. Kongkow sambil menikmati secangkir kopi hangat disertai lawakan, obrolan kosong, sampai obrolan cukup berat, disertai udara dingin yang berkecamuk di luar sana. Selepas maghrib kami semua pun bertolak dari lokasi dauroh menuju rumah panitia yang mengalami kecelakaan dan ditutup dengan makan malam bersama di rumah salah seorang pantia.
Alhamdulillah DP2Q ini selesai dan bisa dibilang sukses walaupun sempat digoyang isu kenetralan Mata’.
Show Spoiler »
Sampai kapanpun Mata harus tetap netral, bagaimana mau mencapai tujuan Mata’ yaitu sebagai mahad kampus dan meyebarkan fikrah Islam yang syummul dan shahih apabila dalam keberjalanannya ditunggangi oleh kelompok-kelompok tertentu entah dengan tujuan apapun.