Ñ-Blu Blog

Shout This Box





Air Hujan Pembunuh PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 25 October 2008 08:12

Coba anda bayangkan bila anda tebunuh hanya karena anda kehujanan. Kehujanan bukan karena setelahnya anda jatuh sakit, tetapi karena butiran-butiran air hujan (lebih tepatnya disebut dengan tetesan) menghujani kepala anda dan menembus sampai ke otak anda dengan kecepatan dua kali kecepatan Valentino Rossi saat dia melahap trek lurus di sirkuit Sentul. Coba bayangkan! Kalau tidak terbayang ya jangan dipaksakan.

Tapi kayanya ga mungkin deh air hujan yang pada kondisi ideal memiliki kecepatan sedahsyat itu. Impossible! Tapi kata iklan salah satu produsen perlatan olahraga, ‘impossible is nothing’. Jawabannya mungkin aja... Coba kita hitung pake rumus bimbel yang sering dipake sama anak-anak SMA yang masih ingusan itu lho... Kata bimbel sih, entah dapet darimana, mungkin dari hasil semedi bertahun-tahun, nanya Mama Loreng, terus puasa kembang tujuh rupa (emang ada ya??) ketemulah rumus saktinya “AKAR DUA G KALI H”. Intinya kalau kita pake g= 9,8ms-2 dan kita mempunyai data ketinggian sebesar h kita akan mendapatkan kecepatan tetesan air hujan saat sampai ke tanah. Mari kita coba buktikan.

Anggap air hujan jatuh dari ketinggian 1200m, maka

sqrt (2gh)= sqrt (2 x 10 x 1200) = 153m/s alias kira-kira 550 km/jam... WOW!!! Mungkin Einstein pun akan bangun kalau ceritanya kaya gini. Kecepatan sebesar itu kira-kira mendekati kecepatan peluru dari sebuah large-caliber handgun.

Percaya begitu aja nih?

Kalau tidak percaya begitu saja, silahkan baca tulisan selanjutnya.

Tahukan anda bahwa Allah SWT. Itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah menciptakan suatu kondisi yang bisa mengakibatkan kita tidak akan terbunuh oleh air hujan. Ingat kejadian itu hanya terjadi pada keadaan ideal, yang sampai saat ini tidak pernah dicapai. Alias gaya gesekan dengan udara diabaikan. Nah masuklah kita pada inti persoalan kita.

Hal-hal yang mempengaruhi antara lain drag force  yang disimbolkan dengan D. Secara matematika dapat ditulis D = ½ CρAv2, dengan C adalah koefisien drag, ρ adalah densitas (massa per volum), A adalah luas penampang yang efektif (jadi luas penampang benda yang bergesekan dengan fluida), dan v adalah kecepatan.

FYI : The skier crouches in “egg postition” so as to minimize her effectice cross-sectional area (A) and thus minimize the air drag acrting on her.

Sekarang kita kaitkan persamaan di atas dengan hukum II Newton yang mungkin anda sudah hapal, yaitu FNET = ma, sehingga D-Fg = ma

Nah, jika suatu benda jatuh cukup lama, lama kelamaan harga D akan sama dengan Fg jadi artinya nilai a akan sama dengan nol. Jadi kecepatan benda tidak akan bertambah. Benda akan jatuh dengan kecepatan kontstan yang disebut dengan kecepatan terminal, atau vt­.

Sehingga persamaannya menjadi   ½ CρAvt2 – Fg = 0, kecepatan terminal dapat dihitung dengan

Sqrt (2Fg/ CρA)... jadi deh persamaan kita.

Kembali ke permasalahan air hujan, bila diketahui bahwa jari-jari tetesan air R=1,5mm, C = 0,6. Anggap luas permukaan adalah luas permukaan lingkaran (saat bergesekan dengan udara). Densitas dari air adalah 1000kg/m3, dan densitas dari udara adalah 1,2 Kg/m3. Maka kecepatan terminal dapat kita hitung dengan persamaan di atas.

Fg = mg atau Fg = Vρg = 4/3 πR3 ρairg

 vt = sqrt (8 πR3 ρairg / 3CρudaraπR2)

=  sqrt [(8 x 1,5.10-3m x 1000 kg/m3 x 9,8 m/s2 )/(3 x 0,6 x 1,2 kg/m3)

= 7,4 m/s = 27 km/jam

“Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?”

Keterangan : sqrt = akar pangkat dua dari...

CMIIW (Correct Me If I Wrong )

 

Pustaka :

Halliday, Resnick, Walker. Fundamental of Physics (extended) 8th edition. Willey . hal 122-124.  

Last Updated ( Saturday, 25 October 2008 08:22 )
 

Comments

avatar ilmy
0
 
 
setau gw ada gaya gesekan antara tetesan hujan dan udara deh..
udh gitu selain ujan itu bergabung dan bertumbuk (teori pembentukan hujan, cari aja di buku klimatologi), hujan setelah dan saat bertumbuk itu juga mendapat sebuah efek evaporasi dari matahari yang mengakibatkan dia juga akan menguap kembali sebelum samapai ke permukaan bumi. suka ada fenomena yg ujan tuh gede2, terus kecil2 halus gitu kan??padahal cara pembentukannya sama.tapi ya dia mendapatkan penguapan yang berbeda. jadinya setelah sampai dipermukaan bumi ya ukurannya berbeda2.gitu priba...itu klo menurut gw ya..gmn?
tumben banget ya gw kayak gini...
B
i
u
Quote
Code
List
List=
[*]
URL
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
B
i
u
Quote
Code
List
List=
[*]
URL
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Working....
Finished
Failed