Ñ-Blu Blog

Shout This Box





Bila Diri Sempit Hati PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 01 September 2009 19:33

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Saudaraku, semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita hati yang
lapang, jernih, karena ternyata berat sekali menghadapi hidup dengan hati
yang sempit. Hati yang lapang dapat diibaratkan sebuah lapangan yang luas
membentang, walaupun ada anjing, ular, kaajengking, dan ada aneka binatang
buas lainnya, pastilah lapangan akan tetap luas.

Aneka binatang buas yang ada malah semakin nampak kecil dibandingkan luas
lapangan. Sebaliknya, hati yang sempit dapat diibaratkan ketika kita
berada di sebuah kamar mandi yang sempit, baru berdua dengan tikus saja,
pasti jadi masalah.

Belum lagi jika dimasukan anjing, singa atau harimau yang sedang lapar,
pastikanlah akan bermasalah lagi. Entah mengapa kita sering terjebak dalam
pikiran yang membuat hari-hari kita menjadi hari-hari yang tidak nyaman,
dan membuat pikiran kita jadi keruh, penuh rencana-rencana buruk.

Waktu demi waktu yang dilalui seringkali diwarnai kondisi hati yang
mendidih, bergolak, penuh ketidaksukaan, terkadang kebencian.

Bahkan lagi dendam kesumat, capek rasanya, jelang tidur, otak berpikir
keras menyusun rencana bagaimana memuntahkan kebencian dan kedendaman yang
ada dilubuk hatinya agar habis tandas terpuaskan kepada yang dibencinya.

Hari-harinya adalah hari uring-uringan makan tak enal, tidur tak nyenyak
dikarenakan seluruh kosentrasi dan energinya difokuskan untuk memuaskan
rasa bencinya ini.

Saudaraku, sungguh alangkah menderitanya orang-orang yang disiksa oleh
kesempitan hati.

Dia kan mudah sekali tersinggung, dan jika sudah tersinggung seakan-akan
tidak termaafkan, kecuali sudah terpuaskan dengan melihat orang yang
menyinggungnya menderita, sengsara, atau tidak berdaya.

Seringkali kita mendengar cerita orang-orang yang dililit derita akibat
rasa bencinya. Padahal ternyata yang dicontohkan para rasul, dan nabi
serta para ulama yang ikhlas, orang-orang yang berjiwa besar, bukanlah
mencontohkan dendam, membenci atau busuk hati.

Mereka justru contoh pribadi-pribadi yang kokoh bagai tembok tegar, sama
sekali tidak terpancing oleh caci maki, cemooh, benci, dendam, dan
perilaku-perilaku rendah lainnya.

Sungguh pribadinya, bagai pohon yang akarnya menghujam ke dalam tanah,
begitu kokoh dan kuat, hingga diterpa badai dan diterjang topan sekalipun
tetap mantap tidak bergeming.

Wallahu a'lam.
______________________________
_________

Semoga Bermanfaat...
Last Updated ( Tuesday, 01 September 2009 20:08 )
 

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List=
[*]
URL
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Working....
Finished
Failed