Ñ-Blu Blog

Shout This Box





Mengenang Jasa Guru PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 25 December 2008 22:52

Original Message-----
From: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

JAM  tujuh  pagi,  suatu  hari pada tahun 1981, di sebuah ruang kuliah kuno
bersuasana gelap dan kelam, yang dibangun pada zaman Belanda, sebuah kuliah
fisika  yang  sangat modern segera akan dimulai. Fisika kuantum nama kuliah
itu.
Hariadi  Paminto  Soepangkat—doktor  fisika  zat  padat lulusan Universitas
Purdue,  Indiana,  AS—sang dosen yang berkulit putih bersih bertubuh tinggi
besar yang dibalut busana rapi lengkap pakai dasi bak eksekutif bisnis itu,
telah  berdiri  penuh  wibawa  di  hadapan  sekitar 150 mahasiswa dari tiga
jurusan: fisika, astronomi, serta geofisika dan meteorologi.
Belum  dua  puluh  menit  kuliah  berjalan,  usai  Pak  Hariadi  menggambar
orbit-orbit  lintasan elektron pada atom hidrogen di papan tulis, tiba-tiba
nama saya dia panggil.
"Saya, Pak," jawab saya agak terkejut sambil mengangkat tangan.
"Kota  asal Saudara di mana?" tanyanya sambil menuruni panggung kuliah yang
rapat  dengan  papan  tulis  dan  berjalan  mendekati  tempat saya duduk di
barisan depan.
"Sidikalang, Pak," jawab saya.
"Oh  ya? Kata Pak Andi Hakim Nasution, Rektor IPB, daerah Saudara penghasil
kopi ya? Kopi Sidikalang enak kata Pak Nas. Betul?"
"Betul, Pak," jawab saya sumringah.
"Sidikalang itu berapa kilometer jaraknya dari Medan?"
"Seratus lima puluh kilo Pak."
"Kalau naik bis ke Medan berapa ongkosnya?"
"Lima ribu, Pak."
"Kalau uang Saudara cuma tiga ribu, sampai di mana itu?"
"Berastagi, Pak."
Sambil memandang kepada semua mahasiswa sesudah kembali ke panggung kuliah,
Pak  Hariadi berkata, "Kira-kira seperti inilah yang dimaksud dengan energi
ambang.   Jika  uang  Saudara  Jansen  cuma  tiga  ribu,  itu  tidak  cukup
mengantarnya  sampai  ke  Medan.  Jadi,  lima  ribu adalah uang ambang yang
diperlukan agar dia bisa sampai ke Medan dari Sidikalang."


"Nah,  demikian  pula  elektron:  dia  butuh energi ambang, itu energi yang
minimum,  untuk  bisa  pindah  ke  orbit yang lebih tinggi. Kita sudah tahu
bahwa    energi    itu   tidak   kontinum,   melainkan   diskrit,   artinya
terkuantifikasi.  Paket-paket  energi yang terkuantifikasi ini dalam bentuk
radiasi  atau  gelombang  disebut  kuanta energi, yang besarnya menurut Max
Planck  adalah  hv, di mana v  frekuensi radiasi itu dan h adalah konstanta
Planck  yang besarnya 6,626×10-pangkat-minus-34 joule-detik. Elektron hanya
bisa  punya  energi  dalam  kelipatan  bulat  kuanta  ini. Tidak hanya pada
elektron tetapi juga foton dan semua zarah renik di tingkat subatom. Inilah
asal-usul  nama  kuantum pada fisika kuantum yang kita pelajari ini. Fisika
kuantum   mempelajari   perilaku   zarah-zarah   subatomik,   dinamika  dan
interaksinya, serta relasinya dengan medan yang memengaruhinya."
Entah apa lagi yang dikuliahkan Pak Hariadi pagi itu saya sudah lupa. Tapi,
saya  terpesona  sudah.  Sidikalang  dan  saya jadi pusat perhatian seluruh
kelas  dan  terutama  Pak  Hariadi.  Cuma beberapa menit saja sorotan lampu
perhatian itu, tapi sudah cukup membuat saya merasa diri spesial.
Dan  sejak  momen  itu  rasa  suka  saya berlipat ganda kepada Pak Hariadi.
Sebagai akibatnya, berlipat ganda pula minat saya pada fisika kuantum.
Singkat cerita, pada ujian akhir semester itu saya mendapat nilai A.
Dan  ini  tidak  lazim.  Jarang sekali saya mendapat nilai A. Di kelas saya
angkatan  1978,  saya cuma mahasiswa rata-rata: mayoritas nilai saya adalah
C, agak lumayan dapat B, tapi yang mendapat nilai A sungguh sangat sedikit.
Tapi,  mendapat nilai A pada fisika kuantum selangit rasanya. Buat saya itu
setara  dengan  nilai  A pada sepuluh mata kuliah yang lain. Fisika kuantum
adalah salah satu mata kuliah paling bergengsi di Jurusan Fisika, kreditnya
maksimum:  empat.  Bukan  cuma itu, di zaman  itu, cuma ada dua mata kuliah
fisika  yang  dianggap  dahsyat: fisika kuantum dan teori relativitas. Yang
terakhir  ini  belum disajikan di tingkat S1. Fisika kuantum pun sebenarnya
baru  cuma  pengantar  pada  kuliah  sepenuh:  mekanika  kuantum, yang akan
disajikan nanti di tingkat S2.
Saya  juga  takjub  pada  diri  sendiri.  Mengapa mendadak saya jadi pintar
sekali?  Tapi,  saya akhirnya menyadari: itu semua karena cara dan gaya Pak
Hariadi mengajar kami memang luar biasa.
Betapa  tidak.  Dia  selalu  sudah  ada  di kelas sepuluh menit sebelum jam
kuliah  dimulai.  Di hampir semua mata kuliah lain, mahasiswa yang menunggu
dosen. Tapi Pak Hariadi sebaliknya.
Pak  Hariadi  selalu  tampil  necis: busananya, kebersihannya, dan istimewa
tulisannya. Dia membersihkan sendiri papan tulis dengan kain lap basah yang
dibawanya   dari   kantornya.   Ada   tiga   papan  tulis  di  kelas  kami.
Dibersihkannya  dulu  papan tulis ketiga saat dia mulai memakai papan tulis
pertama,  sehingga  papan  tulis  ketiga  itu  sudah  kering  saat dia akan
memakainya.  Demikian  seterusnya sampai kuliahnya yang berdurasi 100 menit
itu selesai.
Lima  tahun saya kuliah di ITB, tidak pernah saya bertemu dengan dosen lain
yang mampu menyamai kerapihan dan keindahan tulisan tangan Pak Hariadi.
Pak   Hariadi   juga  pekerja  cepat.  Hari  ini  ujian,  besoknya  jawaban
soal-soalnya  sudah  tertempel di papan pengumuman. Di Jurusan Fisika hanya
Pak Hariadi yang mampu dan disiplin berbuat demikian.
Dia  pun  hafal  nama semua mahasiswa yang diajarnya. Pada setiap kuliah ia
mampu memanggil nama mahasiswa secara acak, dan seperti saya di atas setiap
mahasiswa  yang  terpilih  namanya disebut diajaknya berinteraksi. Dan dari
interaksi  pendek  itu,  tiba-tiba  bisa keluar ilustrasi untuk menjelaskan
konsep  fisika  kuantum.  Bukan  saja ilustrasi itu sangat menolong, karena
membumi bahkan personal, tetapi di tingkat psikologis sang mahasiswa merasa
dilibatkan,  bahkan  dijadikan  bintang  pada  momen  pendek itu. Tak pelak
kuliah   Pak   Hariadi   selalu  digandrungi.  Fisika  kuantum  jadi  mudah
dimengerti, gampang diikuti, dan menarik ditelusuri.
Pak  Hariadi  sangat  jauh  dari  jenis dosen yang memetik rasa puas karena
pelajarannya  sukar  diikuti.  Ia  bukan tipe dosen yang berbahagia melihat
mahasiswa  pusing  tujuh  keliling, lalu takut pada dosennya, dan jeri pada
pelajarannya. Sedikit pun tak ada perangai galak padanya apalagi killer. Ia
memenuhi   tanda-tanda  orang cerdas seturut pendapat Einstein: bahwa orang
cerdas  ialah  orang  yang mampu membuat perkara sulit jadi mudah dipahami,
sedangkan   orang  bodoh  sebaliknya,  membuat  perkara  mudah  jadi  sukar
dimengerti.  Fokus  kedosenan Pak Hariadi ialah bagaimana agar mahasiswanya
bisa mudah memahami pelajarannya supaya dengan begitu tumbuh gairah, minat,
dan   kecintaan   pada   pelajaran  itu  sendiri.  Jadi,  sebenarnya  tidak
mengherankan saya bisa medapat nilai A.
Sesampai  di  Sidikalang,  saat  libur panjang semester, sensasi kebanggaan
mendapat  nilai  A  itu  masih terus berdenyut. Tak tahan, saya pun menulis
sepucuk  surat  kepada  Pak  Hariadi. Saya ungkapkan rasa syukur dan terima
kasih saya dan khususnya kedahsyatan cara mengajarnya saya apresiasi dengan
rinci.
Eh,  surat  saya dibalasnya dengan cepat. Katanya dari sekitar 30 mahasiswa
yang  mendapat  nilai  A,  cuma  saya  yang menulis surat. Gantian dia yang
berterima  kasih.  Di  ujung  suratnya,  sesudah  menitipkan  salam  kepada
orangtua  saya,  dia mengundang saya ke kantornya usai libur. Waktu itu Pak
Hariadi  adalah  Dekan  Fakultas  MIPA.  "Saya ingin mengenal Saudara lebih
dekat." katanya.
Tak  sabar  saya  menunggu  waktu  untuk kembali ke Bandung. Berhubung kopi
Sidikalang sudah disebut-sebut di awal kuliah, itu pula oleh-oleh yang saya
bawa  buat beliau. Ketika orangtua saya tahu kisah dosen yang istimewa ini,
Ibu  saya  mengusulkan  memberikan ulos sebagai cinderamata. Ulos dan kopi,
itulah yang kemudian saya bawa ke Bandung.
Ke kantor dekan F-MIPA, saya pun menghadap. Di ujung percakapan, tanpa saya
duga,  Pak Hariadi meminta agar saya bersedia menjadi asistennya. Terhenyak
saya.  Tubuh  ini  mendadak  ringan  rasanya,  seperti kapas di awang-awang
layaknya. Tak berpikir panjang tawaran itu segera saya sambut.
Ketika  Pak  Hariadi sadar bahwa saya membawa ulos sebagai cinderamata, dia
sempat  tertegun  lalu  berkata,  "Wah,  istri saya harus ikut bersama saya
menerima ini. Terima kasih. Ini penghargaan yang sangat tinggi."
Malam  itu  juga, di rumah Pak Hariadi di perumahan dosen Sangkuriang, saya
pun  menjadi  tamu  keluarga,  diundang  makan  malam bersama, dan kemudian
bercakap-cakap  dengan  akrab.  Di  situlah  ulos  dan kopi Sidikalang saya
serahkan.
Sampai  akhirnya  saya  tamat  pada  akhir 1983––saat itu Pak Hariadi sudah
menjabat  sebagai Rektor ITB––saya terus membantunya sebagai asisten kuliah
fisika kuantum.
Diajar  oleh  Pak Hariadi dan menjadi asistennya sesudahnya merupakan salah
satu  pengalaman  akademik  paling berkesan dan terpenting buat saya selama
kuliah di ITB Bandung.
Kini saya berpendapat, andai kata semua guru matematika, fisika, kimia, dan
biologi di tingkat sekolah lanjutan di negeri ini sanggup mengajar secerdas
dan  sebaik  Pak  Hariadi,  niscaya mata pelajaran-mata pelajaran keras itu
tidak  akan  pernah jadi momok buat anak-anak muda kita. Bahkan, matematika
dan sains akan jadi mata pelajaran favorit.
Guru Fisika yang Inspirasional


Oleh JANSEN H. SINAMO

Last Updated ( Wednesday, 31 December 2008 23:02 )
 

Comments

avatar RAHIM BERUTU
0
 
 
memang mengubah yang hal sulit menjadi sangat sederhana bukan yang mudah tapi bkan pula yang mustahil
hanya saj kita perlu kreatif bagaimana cara metransformasikanya!!!
hal ini lah yang belum semua pahlawan tanpa tanda jasa kita belum menguasainya. dan kadang mau belajar atau sejenis pelatiahn seperti ini masih sulit kiat temui di Indonesia.
B
i
u
Quote
Code
List
List=
[*]
URL
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
avatar RAHIM BERUTU
0
 
 
memang mengubah yang hal sulit menjadi sangat sederhana bukan yang mudah tapi bkan pula yang mustahil
hanya saj kita perlu kreatif bagaimana cara metransformasikanya!!!
hal ini lah yang belum semua pahlawan tanpa tanda jasa kita belum menguasainya. dan kadang mau belajar atau sejenis pelatiahn seperti ini masih sulit kiat temui di Indonesia.
B
i
u
Quote
Code
List
List=
[*]
URL
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
B
i
u
Quote
Code
List
List=
[*]
URL
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Working....
Finished
Failed